Kabar mengenai sejumlah anak penderita busung lapar atau gizi buruk yang dirawat di Rumah Sakit dr.Soetomo, Surabaya, selang beberapa waktu kemudian bermunculan kasus serupa di berbagai daerah, antara lain Irian Jaya dan Ujung Pandang.
Padahal, sejak dua dekade silam tak pernah terdengar penyakit yang dikenal dengan nama honger oedema atau marasmus Kwasiorkhor itu,. Tapi, kini penyakit kurang gizi itu semakin kerap disebut-sebut dari Sabang sampai Merauke.
Dalam situasi sekarang angka kepenyakitan busung lapar diperkirakan bakal semakin melonjak jika krisis ekonomi terus berkepanjangan. Gara-gara krisis moneter, jumlah penduduk miskin semakin banyak sehingga bahaya kelaparan mengancam seluruh wilayah Nusantara.
Beberapa gejala pada penderita penyakit busung lapar antara lain: pembengkakan pada tubuh, busung pada perut. Selain itu, perut mual, muntah-muntah disertai menceret, kulit berkerut, dan wajah tampak menua.
Beberapa penderita gizi buruk misalnya kematian seorang ibu hamil serta seorang anaknya di Makassar sungguh sangat menyedihkan. Tak hanya itu, muncul juga tayangan dan berita tentang fenomena anak-anak meregang nyawa karena busung lapar di Trenggalek dan NTT. Bahkan, daerah yang dekat dengan pusat pemerintahan, yaitu Kota Bekasi juga tidak luput dari kasus balita yang menderita busung lapar.Artinya, ada sejumlah besar kasus kelaparan yang tidak terungkap ke permukaan karena publik tidak dapat mengaksesnya akibat pihak yang mengalami masalah tersebut menyimpan dalam-dalam masalahnya atas alasan malu, kehilangan harapan akan adanya bantuan, dan sekian
banyak alasan lainnya.




